Home » , » Kajian Ekluskursi Pembangunan Dam Jati Gede “Rock Fill Dam dan Coffer Dam di Waduk Jatigede”

Kajian Ekluskursi Pembangunan Dam Jati Gede “Rock Fill Dam dan Coffer Dam di Waduk Jatigede”

1. Gambaran Umum

Wilayah Sungai Cimanuk-Cisanggararung dengan luas 7.711 km2 yang secara administratif terletak di provisi Jawa Barat dan Jawa Tengah berada dalam pengelolaan Balai Besar Wilayah Sungai Cimanuk-Cisanggarung. Salah satu Daerah Aliran Sungai (DAS) di wilayah tersebut adalah DAS Cimanuk yang merupakan satu kesatuan aliran Sungai Cimanuk dari 5 kabupaten yaitu Garut, Sumedang, Majalengka, Indramayu, dan Cirebon. Di dalam tujuannya mengembangkan potensi sumber daya air wilayah Sungai Cimanuk-Cisanggarung maka disusun master plan yang mengidentifikasikan 13 potensi waduk di DAS Cimanuk, diantaranya 3 waduk multipurpose yang menjadi prioritas utama: Waduk Jati Gede, Waduk Cipasang, dan Waduk Kadumalik. Akan tetapi, hingga saat ini baru Waduk Jatigede yang sedang dalam proses pembangunan.



Gambar 1. Peta DAS Cimanuk (Kiri), Peta Topografi DAS Cimanuk (Kanan)


2. Latar Belakang Pembangunan Waduk Jatigede
Berdasarkan kondisi yang ada dan permasalah yang timbul di Sungai Cimanuk maka dibangunlah Waduk Jatigede dengan latar belakang sebagai berikut:
a. Ratio perbandingan antara debit banjir dengan debit kering yang besar dimana fluktuasi debit di Sungai Cimanuk yang tercatat di Bendung Rentang (infrastruktur sumber daya air yang telah ada di Sungai Cimanuk) sangat besar : Qmax = 1.004 m3/det; Qmin = 4 m3/det, Ratio = 251.
b. Lahan kritis DAS Cimanuk pada saat ini telah mencapai lebih kurang 110.000 Ha atau sekitar 31% dari luas DAS Cimanuk.
c. Potensi air Sungai Cimanuk di Bendung Rentang rata-rata sebesar 4,3 milyar m3/th dan hanya dapat dimanfaatkan 28% saja, sisanya terbuang ke laut karena belum ada waduk.
d. Sistem irigasi Rentang seluas 90.000 Ha sepenuhnya mengandalkan pasokan air dari Sungai Cimanuk (river runoff), sehingga pada musim kemarau selalu mengalami defisit air irigasi yang mengakibatkan kekeringan.
e. Di wilayah hilir Sungai Cimanuk (Pantura CIAYU) pada musim kemarau telah pula terjadi krisis ketersediaan air baku untuk keperluan domestik, perkotaan dan industri.
Oleh karena itu, dihasilkan keputusan bahwa Waduk Jatigede perlu segera dibangun guna mengatasi krisis air tersebut, baik untuk menjamin ketersediaan air irigasi Rentang maupun air baku untuk wilayah Pantura CIAYU.


3. Manfaat dan Dampak Waduk Jatigede
Pembangunan mega proyek Jatigede menurut rencananya akan diperuntukkan sebagai:
a. Irigasi 90.000 Ha area layanan di wilayah utara yaitu bagi daerah Indramayu, Majalengka dan Cirebon
b. PLTA 110 MW
c. Pengendali banjir
d. Suplai air baku 3.500 lt/dtk
e. Daerah wisata
Proyek ini diperkirakan akan menenggelamkan 5 kecamatan dan 30 desa dengan jumlah penduduk sekira 7163 Kepala Keluarga atau sekira 70.000 jiwa serta akan menenggelamkan areal lahan yang akan tergenang sekira 4896,22 ha.
Ini berarti sekira 20% dari luas areal lahan pertanian di Kabupaten Sumedang akan hilang karena tergenang atau luas lahan sawah (pertanian) di Kabupaten Sumedang yang semula seluas 33.672 ha akan berkurang menjadi 26.934 ha. Bila proyek ini selesai, ini berarti bahwa produksi beras di Kabupaten Sumedang akan berkurang sekira 80.000 ton per tahun atau senilai sekira Rp 120 miliar/tahun dengan harga gabah Rp 1.500.000 per ton.
Akan tetapi, pemerintah baik pusat maupun daerah di Jawa Barat merasa yakin bahwa pembangunan Proyek Waduk Serbaguna (PWS) merupakan satu-satunya cara yang dapat menyelesaikan masalah kekeringan dan banjir di sebagian wilayah PANTURA.
Selain kontroversi antara manfaat dan kerugian yang harus ditanggung, ada beberapa dampak bendungan pula yang dipertimbangkan yaitu:
1. Sekitar 70.000 jiwa akan kehilangan tempat tinggal dan lahan garapan, 1.200 hektare hutan milik Perhutani akan lenyap, puluhan situs sejarah akan tersapu, serta hilangnya potensi hasil bumi yang cukup besar.
2. Hilangnya lahan subur dan turunnya produksi pertanian. Dampak negatifnya tidak hanya menyangkut aspek geologi dengan adanya struktur tanah patahan berpotensi bencana dan rawan gempa, tetapi juga terhadap potensi sumber daya alam, budaya, sosial, dan lainnya.
3. Bendungan itu membutuhkan lahan seluas 4.892 hektare di mana seluas 3.696 hektare merupakan lahan milik penduduk. Dari luas lahan itu hampir 3.200 hektare merupakan lahan subur bagi pertanian, sehingga mengancam produksi beras di Kabupaten Sumedang berkurang sekitar 80.000 ton per tahun.
4. Dari luas DAS Cimanuk 360.000 hektare, 47% merupakan lahan kritis yang merupakan daerah hulu Sungai Cimanuk yang menjadi suplai air untuk bendungan.
5. Dampak terhadap lingkungan. Ribuan spesies tumbuhan dan hewan, akan ikut amblas sebelum sempat terinventarisasi. Karakter tanah dan hutan sekitar Jatigede yang unik, tentu menyimpan kekayaan alam berupa flora dan fauna sangat beragam. Bendungan diduga berkokntribusi sebanyak ¼ proses pemanasan global (WCD) karena gas metana (CH4) dan karbondioksida (CO2) yang dihasilkan.
6. Dampak Sosial berupa hilangnya budaya lokal dan tenggelamnya puluhan situs bersejarah terutama yang berkaitan dengan sejarah Sumedang.
7. Dampak lainnya adalah potensi konflik di daerah relokasi, pelanggaran HAM, masalah pemindahan penduduk. Sejarah proses pemindahan penduduk secara keseluruhan sangat buruk melihat dari kasus bendungan yang lain seperti kasus di India dimana banyak penduduk berakhir di pemukiman kumuh tanpa mendapatkan kehidupan yang layak. Perubahan budaya, cara hidup termasuk dalam memenuhi kebutuhan dasar hidup menjadi tidak terjamin. Contoh nyata pemindahan masyarakat pada proyek pembangunan Kedungombo ke tempat yang tidak subur sama sekali membuat petani tidak dapat memenuhi kehidupannya.


4. Lokasi dan Data Teknis Waduk Jatigede
Sejak pertama kali gagasan Waduk Jatigede dimunculkan pada tahun 1963, beberapa studi dan perencanaan pun dilakukan. Berbagai perubahan baik dari segi desain maupun detail teknis telah terjadi seiring dengan perkembangan perencanaan waduk Jati Gede yang berada di Kabupaten Sumedang Provinsi Jawa Barat seperti gambar dibawah:

Gambar 2. Peta Lokasi Bendungan Jatigede

Adapun data teknis rencana pembangunan waduk tersebut adalah sebagai berikut:

a.Hidrologi
Luas Catchment Area : 1.462 km2
Volume run-off tahunan : 2,5 x 109 m3
b.Waduk
Muka Air (MA) banjir max : El +262
MA operasi max (FSL) : El +260
MA operasi min (MOL) : El +230
Luas permukaan waduk (El +262) : 41,22 km2
Volume gross (El +260) : 980 x 106 m3
Volume efektif (antara El +221 dan +260) : 877 x 106 m3

c.Bendungan
Tipe : Urugan batu, inti tegak
Elevasi mercu bendungan : El +265
Panjang bendungan : 1.715 m
Lebar mercu bendungan : 12 m
Tinggi bendungan maksimum : 110 m
Volume timbunan : 6,7 x 106 m3
d.Spillway
Lokasi : at the dam body
Tipe : Gated spillway with chute way
Crest : Lebar 50 m, El. +247
Dimensi radial gates : 4 bh (W=13; H=14,5m)
Q outflow : 4,468 m3 /det (PMF = 11.000 m3 /det)

e.Intake Irigasi
Lokasi : Di bawah spillway
Irrigation inlet appron : El +204
Tipe : Reinforced concrete conduit
Dimensi condoit : D=4,5 m; L=400 m

f.Terowongan Pengelak
Lokasi : under the spillway
Inlet level : El +164
Tipe : Circular lined reinforced concrete
Debit rencana (Q100) : 3.200 m3 /det
Dimensi terowongan : D=10 m; L=556 m
g.PLTA
Lokasi : Right abutment
Power Inlet appron : El +210
Headrace tunnel : D=4,5 m; L=3.095 m
Design head : 170 m
Tipe turbin : Francis
Kapasitas terpasang : 2 x 55 GWH =110 MW
Produksi rata-rata : 690 GWH/tahun

5. Rock Fill Dam dan Coffer Dam di Waduk Jatigede
5.1.Rock Fill Dam
Bendungan merupakan suatu konstruksi yang dibangun untuk menahan laju air menjadi waduk, danau, maupun tempat rekreasi. Bendungan Jatigede adalah contoh bendungan tipe rock fill dam yang berupa timbunan batu dengan lapisan inti tanah kedap air tegak. Elevasi puncak nya yaitu + 265,00 m, tinggi bendungan diatas pondasi yaitu 110 m dan volum timbunan yang diperlukan sekitar 4,612 x 106 m3. Bendungan Jatigede memiliki beberapa bagian penting, antara lain inti bendungan, bangunan pelimpah (spillway) dan terowongan pengelak (diversion tunnel) serta saluran-saluran lain yang berfungsi sebagai saluran irigasi.

Gambar 3. Situasi Bendungan Jatigede

Untuk jenis timbunan yang digunakan sebagai urugan di Bendungan Jatigede dijelaskan sebagai berikut:

Tabel 1. Jenis Timbunan Bendungan Jatigede




Gambar 4. Potongan Melintang Bendungan Jatigede

Penimbunan ekstra pada puncak bendungan diperlukan untuk mengimbangi adanya penurunan pada inti bendungan yang disebabkan oleh adanya proses konsolidasi.
Batuan yang dapat digunakan sebagai pondasi pada bendungan pun harus memenuhi kriteria yang ditetapkan sebagai berikut:
1.Pondasi bendungan harus direncanakan sesuai dengan tinggi dan tipe bendungan dengan mempertimbangkan material pembentuk pondasi, setelah batuan (rock), sand, gravel atau tanah (soil).
2.Dalam perencanaan pondasi pengupasan dan metode kontrol rembesan serta menjamin keamanan struktur pondasi harus diperhitungkan sesuai kondisi batuan pondasi dan tubuh bendungan yang direncanakan.
3.Untuk pondasi batuan rock (rock foundation), galian untuk zone kedap air atau dinding perlu dilakukan sampai batuan keras dan sementasi (grouting) perlu dilakukan sesuai dengan skala bendungan dan kondisi bendungan.
4.Galian pondasi perlu disesuaikan bentuknya sehingga memudahkan pekerjaan penimbunan tanpa menyebabkan penurunan. Bentuk galian tidak boleh terlalu curam dan tidak overhanging.
5.Bila diketemukan sesar (fault) perlu diperbaiki (foundation treatment).
6.Grouting perlu dilakukan untuk menutup rekahan (crack) pada pondasi batuan dan harus meningkatkan kekedapan (water tightness).
7.Grouting tirai (curtain grouting) berfungsi sebagai zone kedap air dan diletakkan pada tengah impervious core atau dibagian hulu impervious facing (membrane).
8.Grouting selimut (blanket grouting) berfungsi menahan rembesan pada permukaan pondasi yang retak-retak.
9.Bila grouting tidak dapat dilakukan, dapat diganti dengan impervious blanket pada bagian hulu dan atau pembuatan drain dibagian hilir.

5.2. Instrumen Bendungan
Pemasangan instrumentasi pada tubuh bendungan bertujuan untuk mengamati seluruh kelakuan tubuh bendungan secara seksama, sehingga dapat diketahui kondisi-kondisi yang sebenarnya. Dari data-data yang didapatkan dari instrumen tersebut maka dapat diketahui apakah tubuh bendungan masih dalam kondisi yang normal ataukah sudah terjadi kelainan-kelainan yang dapat menyebabkan timbulnya bahaya, sehingga dapat diantisipasi sebelumnya. Instrumentasi yang dibutuhkan antara lain :
1.Tekanan Air Pori (Pore water pressure)
Berfungsi untuk menghitung kondisi tegangan di tanah sesuai mekanika tanah menurut Terzaghi untuk tekanan efektif tanah.
2.Alat Pengukur Rembesan (Seepage measuring device)
Alat yang berfungsi untuk mendeteksi da mengkuantifikasi outflow air tanah dan adanya infiltrasi air laut.
3.Piezometer
Berupa tabung terbuka atau tertutup yang dipasang dari permukaan tanah ke bawah yang digunakan untuk mengukur tekanan air pada daerah dimana ujung bawah pipa diletakkan.
4.Inclinometer
Alat yang berfungsi untuk mengukur kemiringan bidang (lateral deformation).
5.Crest settlement survey point
Titik survei penurunan puncak berguna dalam monitoring penurunan yang terjadi.
6.Surface settlement survey point
Titik survei penurunan permukaan berguna dalam monitoring penurunan yang terjadi.
7.Seismometer
Alat yang berfungsi untuk mengukur getaran yang ada pada permukaan tanah dan umumnya dipergunakan untuk mendeteksi gempa.
5.3. Cofferdam
Sedangkan bagian Cofferdam adalah sebuah rintangan umumnya bersifat sementara yang dibuat untuk mengeringkan air dari area yang normalnya terendam air. Cofferdam yang direncanakan di Bendungan Jatigede terdiri dari:
1.Main Cofferdam
Berupa Urugan Batu (Rockfill) dengan inti (core) kedap air miring dari tanah liat.
Elevasi Main Cofferdam + 204.00
Lebar mercu bendungan 12 m
Tinggi Main Cofferdam 49 m
Kemiringan lereng d/s = 1(V) : 1,4(H) dan u/s = 1(V) : 3(H)
Total Volume Rock (Batu) = 367.329 m3, Core = 66.046 m3,
Filter = 20.882 m3, dengan Total Volume = 454.257 m3

2.Primary Cofferdam (U/S Dan D/S)
Elevasi Primary Cofferdam + 180.00
Lebar mercu bendungan 8 m
Tinggi Cofferdam 25 m
Kemiringan lereng d/s = 1(V) : 3(H) dan u/s = 1(V) : 3(H)
Total Volume 50.000 m3


Gambar 5. Potongan Melintang Bendungan Jatigede yang Disertai Cofferdam

5.4.Pelaksana Pekerjaan di Bendungan Jatigede
Bendungan Jatigede dibangun dengan kerja sama kontraktor dari China: Sinohydro JO dengan CIC (Consortium of Indonesian Contractors) yang terdiri dari:
1.PT. Waskita Karya
2.PT. Wijaya Karya
3.PT. Pembangunan Perumahan
4.PT. Hutama Karya
Kontraktor Sinohydro JO dari China bertugas untuk membangun bendungan (dam) beserta gallery-gallery baik untuk grouting dan lainnya. Kontraktor CIC dari Indonesia bertugas untuk membangun diversion tunnel yang mana masing-masing kontraktor dari China dan Indonesia memiliki batching plant yang terpisah. Sedangkan untuk konsultan, proyek ini dikerjakan antara kerjasama:
1.Konsultan Nasional (KSO)
Terdiri dari PT. Indra Karya, PT. Mettana, PT. Tata Guna Patria, PT. Wiratman & Ass., PT. Indah Karya
2.DED Consultant : SWHI (China)
Konsultan-konsultan ini juga memiliki tugas masing-masing namun tetap saling berhubungan. Konsultan SWHI bertugas membuat design yang akan dicek oleh KSO begitu pun sebaliknya, konsultan KSO memiliki tugas untuk membuat diversion tunnel design dan hasilnya akan dicek oleh SWHI dan konsultan Indonesia memiliki tanggung jawab untuk supervise seluruh pekerjaan yang ada.

6.Kesimpulan
Waduk Jatigede yang akan berguna untuk supply air baku, irigasi, PLTA, pengendali banjir, dan daerah wisata ini hingga saat penulis melakukan tinjauan masih berada dalam tahap konstruksi spill way, tunnel, dan grouting gallery. Pembangunan waduk yang gagasan nya muncul di 1963 dan pembangunannya direncanakan selesai tahun 2014 ini ternyata masih banyak mengalami kendala dan memiliki beberapa pertimbangan yang harus difikirkan seperti faktor geologi daerah Sumedang yang dilalui oleh Patahan Baribis. Akan tetapi, kajian yang cukup dan pembangunan yang serius antara pemerintah, kontraktor, dan konsultan dari China dan Indonesia diupayakan dapat mengatasi dan meminimalisir akibat buruk yang mungkin terjadi.



By : Debby Rahmawati

untuk versi wordnya download disini

Berita Lainnya :


Share Artikel ini :

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

 
Copyright © 2014. Media Nurani Sumedang - All Rights Reserved