Home » » UNWIM-ATPU Tinggal Kenangan Kini Jadi Kampus ITB Jatinangor

UNWIM-ATPU Tinggal Kenangan Kini Jadi Kampus ITB Jatinangor

ITB Jatinangor Sekarang
UNWIM-ATPU tinggal kenangan kini jadi kampus ITB Jatinangor, dulu disini adalah kampus UNWIM-ATPU jurusan Teknik yaitu : Teknik Sipil, Teknik Lingkungan, Teknik Geodesi, Teknik Planologi dan Teknik Arsitektur. Lantas mengapa kampus UNWIM menjadi Kampus ITB Jatinanngor krolonologinya adalah sebagai berikut:

Unwim sebelum berubah jadi ITB
Gedung Rektorat Universitas Winaya Mukti (Unwim) di Jatinangor Kab. Sumedang. Akibat minimnya peminat, mulai tahun ajaran 2008/2009, diinstruksikan tidak menerima mahasiswa baru. Sementara itu, civitas academica Unwim menuntut adanya kepastian sikap dari pemprov sebagai pemilik Unwim agar mempertahankan dan mengendalikan Unwim, serta tetap melaksanakan penerimaan mahasiswa baru (PMB) 2008.

Mulai tahun ajaran 2008/2009, Universitas Winaya Mukti (Unwim) diinstruksikan tidak menerima mahasiswa baru. Kepala Bapeda, Prof. Dr. Ir. Deny Juanda Puradimaja mengatakan, langkah ini terkait rencana pengintegrasian Unwim dengan Institut Teknologi Bandung (ITB). 

Minimnya peminat, kata Deny sebagai salah satu alasan pengintegrasian tersebut. Sebagai universitas swasta milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar, Unwim juga dinilai sudah kurang produktif. Padahal dalam pengelolaannya, setiap tahun Pemprov Jabar harus mengeluarkan dana cukup besar untuk menyubsidi kampus ini.

“Langkah terbaik yang bisa diambil pemprov adalah dengan mengintegrasikan Unwim ke dalam ITB Multikampus,” ujar Deny. Hal ini menjadi keputusan pemprov setelah melalui pertimbangan yang matang. “Dengan produktivitas yang minim, pemprov tidak mungkin lagi memberdayakan Unwim secara langsung,” kata Deny.

Mengenai teknis integrasi Unwim-ITB, Deny mengatakan, pelaksanaannya baru sampai pada tahap sosialisasi ke pihak Unwim. “Surat keputusannya sudah ada dan kami tinggal mencari waktu untuk berdiskusi dengan seluruh civitas academica Unwim termasuk mahasiswa dan dosen,” kata Deny.

Ia mengakui, pemprov memang terlambat menyosialisasikan masalah ini, karena sempat disibukkan oleh agenda pemilihan gubernur beberapa waktu lalu. Padahal, wacana pengintegrasian Unwim-ITB ini sudah ada sejak awal 2008.

Deny menjelaskan, mahasiswa lama Unwim sebenarnya tidak perlu khawatir. “Nanti ada seleksi lagi bagi mahasiswa Unwim dan yang memenuhi standar statusnya akan menjadi mahasiswa ITB. Sementara bagi yang tidak lolos seleksi masih berstatus sebagai mahasiswa Unwim,” ujar Deny melanjutkan.

Hal ini berlaku juga bagi dosen Unwim yang ada sekarang. Dosen yang sudah S-3 akan langsung diangkat sebagai dosen ITB, sementara dosen yang masih S-1 atau S-2, akan melalui uji kelayakan. “Standar dosen ITB kan S-3, jadi kalau ingin jadi dosen ITB syaratnya harus S-3 dulu,” tutur Deny.

Begitu pula dengan para staf administrasi. Mereka akan ditawari menjadi staf administrasi ITB. Jika tidak bersedia, mereka akan dikembalikan ke instansi sebelumnya yang membawahi Unwim, yaitu pemprov dan Yayasan Winaya Mukti.

Mengenai program studi (prodi) yang akan diintegrasikan, Deny mengatakan bahwa akan ada pembicaraan lebih lanjut antara pemprov, Unwim, dan ITB. Rencananya, jurusan dan prodi di fakultas teknik Unwim akan langsung diintegrasikan dengan jurusan dan prodi yang sejalan dengan yang ada di ITB.

Sementara untuk fakultas pertanian (Faperta), kehutanan (Fahutan), dan ekonomi (FE) masih akan di bahas. Dalam proposal yang diajukan ITB ke pemprov, Faperta dan Fahutan akan menginduk kepada Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB. “Ini baru penawaran dari ITB, jika dirasa kurang sinergis masih bisa dibicarakan lagi,” kata Deny.

Menurut dia, dalam ITB Multikampus, prodi tidak harus di bawah ITB langsung. Namun, bisa juga bekerja sama dengan universitas lain. Fakultas Ekonomi, kata dia, bisa juga bergeser menjadi ekonomi pembangunan, mengingat di ITB tidak ada Fakultas Ekonomi. “Yang jelas tidak akan ada pihak yang dirugikan nantinya,” kata Deny.

Pelaksanaan integrasi prodi tersebut, kata Deny, akan dijalankan bertahap selama 3 tahun ke depan. Rencana integrasi tersebut juga masih akan menunggu sampai mahasiswa Unwim yang nanti tidak lolos menjadi mahasiswa ITB habis. “Kita tunggu sampai mereka semua lulus dan Unwim benar-benar siap” tutur Deny.

Dia menambahkan, masalah legalisasi ijazah alumni Unwim nantinya akan diurus Koordinator ITB Multi-Kampus yang membawahi Unwim. “Ijazah mereka tetap berlaku dan legalisasinya tetap sah meski status kampus mereka sudah berubah,” ungkap Deny.

Kendati demikian, berbagai isu tetap gencar berkembang. Bukan sekadar kerja sama, namun kepada pengambil alihan, sampai dijual, hingga Unwim akhirnya ditutup.

Situasi tersebut, bukan hanya menimbulkan keresahan di antara mahasiswa, kalangan karyawan, staf pengajar, sampai golongan pimpinan. Sejumlah pihak luar pun, menyatakan prihatin atas rencana Pemprov Jabar tersebut, terutama berkaitan komitmen membangun daerah dikaitkan sejumlah disiplin ilmu. “Kalau situasinya begini terus, saya lebih baik mencari aman asal dapur tetap ‘ngebul’. Sejak lama saya lebih banyak mengejar projek untuk memperoleh pendapatan, karena eksistensi Unwim tak jelas lagi,” kata seorang dosen tenaga yayasan berpendidikan S-3.

Pembangunan ITB dengan konsep ITB multikampus yang sedang berlangsung saat ini tidak hanya menuntut kesiapan dari pihak internal ITB khususnya rektorat, tetapi juga kesiapan dari mahasiswa ITB sendiri. Untuk memperkenalkan keadaan kampus baru ITB kepada mahasiswa, pihak rektorat memberikan fasilitas berupa kunjungan bersama ke ITB Jatinangor setiap hari Sabtu pada pukul 08.30 WIB mulai dari Sabtu (21/05/11) hingga Sabtu (25/06/11) mendatang.

Kunjungan perdana ITB Jatinangor dilakukan pada Sabtu (21/05/11) yang lalu. Dua orang mahasiswa masing-masing dari Teknik Sipil dan Teknik Informatika ini berangkat bersama dengan Prof. Ir. Indratmo Soekarno, M.Sc, Ph.D,dosen Teknik Sipil ITB merangkap ketua tim Pengembangan Multi Kampus di Jatinangor.

Rombongan kunjungan ITB Jatinangor berangkat tepat pukul 08.30 WIB dari kampus Jalan Ganeca. Setibanya di kampus ITB Jatinangor, rombongan disambut oleh perwakilan tim pengembangan ITB Jatinangor. Rombongan melakukan tur keliling area ITB Jatinangor sambil berbincang mengenai proses pengembangan ITB Jatinangor yang tengah berlangsung.

Kampus Baru Kita

Kampus ITB Jatinangor ini berdiri di atas area seluas kurang lebih 47 hektar, hampir dua kali luas kampus ITB Ganesha yang hanya sekitar 25 hektar. Sebelumnya area ini merupakan area kampus Universitas Winaya Mukti (UNWIM) yang kemudian dipercayakan oleh pemerintah untuk dikelola oleh ITB.

Area ini tidak sepenuhnya kosong. Terdapat beberapa gedung UNWIM seperti gedung rektorat, gedung serbaguna, gedung laboratorium teknik, gedung perpustakaan dan beberapa gedung perkuliahan yang masih berdiri kokoh. Saat ini ITB sudah melakukan beberapa perubahan (renovasi) pada gedung-gedung tertentu, seperti gedung rektorat dan satu gedung perkuliahan, serta pembangunan pos satpam. Gedung-gedung yang sudah ada nantinya akan direnovasi dan dimanfaatkan oleh ITB. Area yang masih berupa tanah kosong akan dibangun gedung laboratorium, asrama, dan gedung perkuliahan yang baru.

Area kampus ITB Jatinangor berbatasan langsung dengan area kampus Universitas Padjajaran (Unpad) dan Institut Pendidikan Dalam Negeri (IPDN). Kampus ITB Jatinangor ini nantinya akan dipergunakan untuk program studi baru yang akan dibuka oleh ITB. Rencananya kampus ITB Jatinangor akan siap beroperasi mulai tahu ajaran 2012/2013.

Unwim-ITB Sudah Tahap Akhir

ITB dan Unpad "Bersaing" untuk Mengelola Unwim Keputusan Akhir Tergantung Rapim. Dan rapim akhirnya memutuskan mengelola Unwim kepada ITB.

Pembahasan kerja sama Universitas Winaya Mukti (Unwim) dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) sudah sampai pada tahapan penyelesaian akhir. Badan Perencanaan Daerah (Bapeda) Jawa Barat menargetkan pembahasan rencana tersebut selesai akhir Oktober sehingga dapat memberi lebih banyak waktu kepada ITB untuk mempersiapkan sistem pendidikan di kampus Unwim. Demikian diungkapkan Kepala Bapeda Jabar Deny Juanda yang dihubungi “PR” melalui telefon, Kamis (4/9).

“Secara garis besar, semua aspek sudah selesai dibahas. Tinggal mendapatkan kesepakatan dari ITB, Unwim, dan Pemprov Jabar. Setelah itu, baru dibuatkan legal aspek dan dimintakan persetujuan ke gubernur. Inti dari legal aspek adalah Gubernur Jabar menugaskan Rektor ITB mengelola Unwim,” ujarnya.

Menurut Deny, aspek-aspek krusial seperti status mahasiswa, dosen, karyawan, dan aset Unwim tidak akan merugikan semua pihak. Mahasiswa tetap akan diberi waktu untuk menyelesaikan studi karena ada masa transisi selama tiga tahun. Sementara itu, ia menjamin tidak akan ada karyawan dan Unwim yang di-PHK.

“Meski dikerjasamakan, semua unsur tetap akan dilibatkan. Unwim tetap menjadi milik Pemprov Jabar dengan menunjuk ITB sebagai pengelolanya. Namanya berubah menjadi ITB Multikampus Winaya Mukti,” katanya.

Mengenai program studi yang akan dibuka di Winaya Mukti setelah pengerjasamaan, hal tersebut akan diserahkan kepada ITB. Sebagai pengelola, ITB memiliki hak untuk mengembangkan aset-aset eks kampus Winaya Mukti sesuai dengan rencana strategis ITB.

Pengelolaan aset merupakan salah satu bagian dari kompensasi Pemprov Jabar kepada ITB yang bersedia mengelola Winaya Mukti. Meski demikian, Deny belum bisa menjelaskan secara detail kompensasi yang nantinya akan tertuang dalam perjanjian kerja sama.

Deny menegaskan langkah pengerjasamaan merupakan opsi terbaik bagi masa depan pendidikan di Jabar. Dengan menggandeng ITB untuk mengembangkan kampus Winaya Mukti, kawasan Jatinangor akan menjadi kawasan pendidikan terpadu.

“Jatinangor dibangun oleh pemprov sebagai kawasan ilmu pengetahuan sosial, teknologi, dan budaya. Saat ini yang dimaksud dengan teknologi itu belum ada. Setelah ITB masuk, aspek teknologi ini akan terwujud,” tutur Deny.

Sementara itu, Rektor ITB Djoko Santoso mengatakan hingga saat ini pihaknya belum menerima perintah resmi dari Pemprov Jabar berkaitan dengan pengerjasamaan Unwim dengan ITB. “ITB kan berada di wilayah Jawa Barat. Kami akan mengikuti perintah dari Pemprov Jabar,” katanya saat dihubungi “PR”, Jumat (5/9).

Belum adanya perintah resmi itu membuat Djoko enggan menjabarkan detail pengerjasamaan yang akan dilakukan. “Bentuknya baru akan dibicarakan kalau sudah ada perintah resmi,” katanya.

Namun Djoko menegaskan, ITB siap melaksanakan apa pun yang diputuskan Pemprov Jabar. Menurut dia, ITB hanya menunggu perintah jelas dari Pemprov Jabar yang berwenang atas Unwim. “Yang penting harus ada penugasan dulu,” ujarnya.

85 Persen Dosen dan Karyawan Unwim Bergabung ke ITB

Sebanyak 242 dari total 291 dosen dan karyawan Universitas Winaya Mukti (Unwim) menyatakan kesediaannya untuk bergabung dengan Institut Teknologi Bandung (ITB). Para dosen dan karyawan Unwim tersebut akan difokuskan untuk mengelola Kampus ITB Jatinangor terlebih dahulu, yang saat ini masih digunakan sebagai tempat proses belajar mengajar oleh mahasiswa Unwim sampai dua tahun ke depan.

“Bila dipersentasikan jumlah yang bersedia bergabung sekitar 85 persen, terdiri dari dosen Kopertis, dosen Organik, dan karyawan organik,” ujar Penanggung Jawab Kampus ITB Jatinangor Indratmo Soekarno di Bandung, Rabu (13/10).

Menurut dia, hampir semua dosen organik Unwim menyatakan kesediannya untuk bergabung. Sementara 23 orang sisanya merupakan dosen dari Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis )yang sudah berstatus pegawai negeri sipil. Sebelumnya dosen dari Kopertis yang mengajar di Unwim sebanyak 50 orang.

Idratmo menuturkan, kebanyakan dosen Kopertis yang tidak bergabung tersebut disebabkan karena sebelumnya mereka sudah mendapatkan pekerjaan di perguruan tinggi lain. “Kami juga akan melakukan koordinasi dengan Kopertis untuk pengalihan dosen Kopertis ini karena Surat keputusan pemindahannya akan dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Peguruan Tinggi,” katanya.


Lima Prodi Baru di ITB Jatinangor

Kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) di Jatinangor akan menampung mahasiswa dari lima program studi (prodi) baru. Mereka akan tercatat sebagai mahasiswa tahun ajaran 2011.

Ketua Tim Pengembangan Multi Kampus di Jatinangor Prof. Indratmo Soekarno menjelaskan, kelima prodi baru tersebut adalah Bioengineering, Ilmu tentang perhutanan, dan Ilmu tentang pertanian; ketiganya di bawah atap Sekolah Ilmu Teknologi Hayati (SITH). Sementara dua prodi lainnya yaitu Infrastuktur dan Sanitasi Lingkungan, serta Sumber Daya Air ada di bawah naungan Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan.

"Prodi tersebut dibuka sesuai dengan kebutuhan saat ini dan untuk pemberdayaan masyarakat," ujar Indratmo seperti disitat dari situs ITB, Senin (17/1/2011).

Kampus ITB Jatinangor menempati bekas kampus Universitas Winaya Mukti  yang pengelolaannya dialihkan ke ITB. Saat ini, ITB tengah membangun berbagai sarana yang diperlukan untuk menunjang perkuliahan sekira 200-300 mahasiswa baru ITB Jatinangor pada tahun ajaran 2011.

Kampus berlambang gajah itu telah menggelontorkan biaya hingga Rp1 triliun untuk pembangunan fisik kampus ITB Jatinangor. Mereka menyiapkan sarana jalan, laboratorium, renovasi dan revitalisasi asrama dan laboratorium lama, membangun pagar, dan sebagainya. Diperkirakan, asrama dapat menampung hingga 512 mahasiswa baru. Namun, pada tingkat kedua mereka harus berbaur dengan masyarakat.

Pihak kampus mengklaim, proses pembangunan tersebut menggunakan prinsip eco campus. Hanya 20 persen dari total lahan 47 Ha yang dipergunakan untuk bangunan, sisanya digunakan untuk konservasi lahan hijau. Prinsip ini termasuk memperhatikan kebutuhan drainase yang baik dengan menganut prinsip zero delta cue, sehingga tidak ada air hujan yang terbuang. Sementara, air permukaan akan dimanfaatkan untuk kebutuhan kampus.

"Ini kampus yang berorientasi pada bio engineering, water engineering, dan teknologi pascapanen," ujar Indratmo.

Dia menambahkan, kampus ITB Jatinangor juga dipersiapkan sebagai pusat inovasi alat-alat perkakas mekanik, seperti membuat prototype atau menyempurnakan produk-produk industri. Rencana ini tidak hanya mencakup riset, tetapi juga kemungkinan terjun langsung ke dunia bisnis.

ITB memperkirakan, mereka mampu menampung hingga 2.700 mahasiswa pada 2025 di kampus Jatinangor. Mereka pun akan menyiapkan beberapa bus untuk menghubungkan kedua kampus di Jalan Ganeca, bandung, dan kampus Jatinangor.

Indratmo menjamin, tidak akan ada pembedaan proses dan kualitas pendidikan antara kampus Ganeca dengan kampus Jatinangor. Dia menegaskan, seluruh penunjang pendidikan di kedua kampus telah sesuai standar ITB.

Saat ini, ITB juga telah menerima ITB 242 pegawai baik dosen maupun non dosen dari Universitas Winaya Mukti.


ITB Multi Kampus 

Gagasan mengembangkan ITB multi kampus mendapat kesempatan emas pada tanggal 31 Desember 2010 dengan ditanda-tanganinya perjanjian kerjasama ITB dengan Pemerintah Propinsi Jawa Barat Nomor: 073/02/otdaksm/2010, untuk pengelolaan lahan pendidikan yang terletak di Jatinangor dan di Tanjungsari, Kabupaten Sumedang.

Kampus ITB Jatinangor dan Tanjungsari sebagai off G Campus pertama ini berada diatas lahan seluas 53 hektar direncanakan untuk pusat pengembangan keunggulan life sciences. Sedangkan off G Campus kedua, yang terletak di daerah Delta Mas , Kabupaten Bekasi direncanakan sebagai pusat pengembangan keunggulan industri-manufaktur.

Pengembangan ITB jatinangor  telah mendapat persetujuan dari 4 Pilar ITB (Majelis Wali Amanat, Senat Akademik, Majelis Guru Besar, Rektor). Pengembangan ini memiliki Keselarasan Program Pengembangan dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam hal pengembangan di bidang Pangan, Kesehatan, Energi, Industri, Water Resources,juga transportasi dan lingkungan.

Pengembangan ITB Jatinangor ini sesuai dengan landasan pengembangan ITB, antara lain:

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (Triple Track Strategy : pro growth, pro job, pro poor)
Rencana Kerja Pembangunan Daerah Jawa Barat
SK MWA ITB No. 005/2007 tentang Kebijakan Umum Pengembangan ITB 2007-2011.
SK SA ITB No. 01/2003 tentang Kebijakan Pengembangan Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni di ITB.
Rencana Induk Pengembangan (Renip) ITB 2006-2025
SK SA ITB no.21/2008 tentang Agenda Akademik ITB 2008-2013
SK SA ITB no.01/2009 tentang ITB Sebagai Universitas Riset
SK SA ITB no.46/SK/K01/2008 tentang Norma Pengembangan Multi Kampus ITB

Selain sesuai dengan landasan pengembangan ITB, pengembangan ITB Jatinangor dilatarbelakangi oleh:

Pengembangan Pendidikan Tinggi Indonesia yang merupakan bagian dari rencana pembangunan Pemerintah Republik Indonesia,
Pengembangan Daerah Jawa Barat yang dituangkan dalam Rencana Strategis Pemerintah Daerah Jawa Barat,

Pengembangan Pendidikan Tinggi dan Rencana Strategis ITB untuk mencapai Visi dan Misi ITB.

ITB sedang menyusun rencana pengembangan jangka panjang dengan membuka beberapa kampus baru di luar kampus pertamanya yang terletak di Jalan Ganesha nomor 10. Kebijakan ini dipercaya mampu mendukung cita-cita ITB untuk menuju world class university. Namun, benarkah kebijakan multikampus yang akan diterapkan ITB ini akan membawa dampak yang positif?

Diterapkannya kebijakan ITB multikampus ini dilatarbelakangi kondisi bahwa kampus di Jalan Ganesha nomor 10 (ITB Ganesha) sudah tidak lagi mampu menampung kapasitas dari berbagai kegiatan di ITB. Bahkan Kementerian Advokasi Kebijakan Kampus Keluarga Mahasiswa ITB menyebutkan bahwa jumlah mahasiswa dikampus ITB Ganesha saat ini sudah melampaui batas, yaitukini ada sebanyak 20.000 mahasiswa dari daya tampung yang seharusnya hanya sejumlah 15.000 mahasiswa. Kebijakan pengembangan ITB multikampus merupakan bagian dari Strategi Jangka Panjang ITB untuk mencapai Visi 2010 ITB dan Rencana Induk Pengembangan (RIP) ITB. Kebijakan multikampus ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas riset serta mendukung pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas teknologi dalam skala regional maupun nasional.

Dengan diterapkannya kebijakan ITB multikampus, muncul istilah On-G Campus dan Kampus Off-G Campus. Istilah On-G Campus merujuk pada kampus ITB Ganesha sedangkan kampus-kampus ITB lain di luar itu akan disebut sebagai Off-G Campus.

Off-G Campus terdiri dari beberapa kampus, seperti kampus ITB Jatinangor (terletak Jalan Winaya Mukti nomor 1, Jatinangor), kampus ITB Walini (terletak di perkebunan Teh Walini), dan ITB Bekasi. Bahkan, ada isu yang mengatakan bahwa ITB juga akan membuka kampus di Malaysia, namun hal ini baru sebatas wacana meskipun ITB telah membentuk tim untuk melakukan studi kelayakan terhadap peluang ini. Off-G Campus ini nantinya akan lebih banyak difungsikan sebagai tempat dibangunnya pusat-pusat unggulan ITB, pusat kegiatan yangbekerjasama dengan berbagai kekuatan masyarakat dan industri, tempat inkubator bisnis,pusat kegiatan masyarakat binaan ITB, danpusat-pusat pemberdayaan masyarakat. Selain itu, Off-G Campus juga berfungsi sebagai kawasan untuk memamerkan potensi ITB di bidang industri (industrial exposer). Off-G Campus juga mengedepankan keseiringan perkembangan dengan pihak masyarakat dan industri dalam membangun berbagai pilot plant teknologi ITB.

Nantinya, kampus Jatinangor juga akan dimanfaatkan untuk kegiatan akademik mahasiswa, selain kampus Ganesha. Dalam hal ini, ITB mendapat keuntungan karena kampus ITB Jatinangor merupakan bekas akuisisi dari kampus milik Universitas Winaya Mukti sehingga kampus ini memiliki beberapa peninggalan fasilitas yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan perkuliahan seperti laboratorium, ruang kelas, serta perpustakaan.

Pada awalnya, kampus ITB Jatinangor ini direncanakan akan digunakan oleh mahasiswa Tahap Persiapan Bersama (TPB, tingkat satu), namun kebijakan ini ternyata belum siap untuk diterapkan dalam jangka pendek ini. Hal ini disebabkan karena fasilitas fisik kampus yang belum mendukung (banyak fasilitas saat ini dalam kondisi rusak) serta terdapat penolakan dari beberapa dosen yang mengajar mahasiswa TPB. Akan tetapi, kebijakan penempatan mahasiswa TPB di kampus Jatinangor tetap akan dituju karena ini mendukung rencana ITB untuk mewajibkan mahasiswa tingkat satunya untuk tinggal di asrama (yang tidak mungkin dilakukan pada kampus Ganesha karena keterbatasan lahan). Menurut Prof. Indratmo, Koordinator Kampus ITB Jatinangor, ITB telah bekerja sama dengan Kementerian Pekerjaan Umum untuk membangun asrama yang nantinya akan ditempati oleh seluruh mahasiswa di ITB Jatinangor. Hingga saat ini, rencana penggunaan kampus ITB Jatinangor akan dikhususkan untuk mahasiswa dari program studi Rekayasa Hayati dan dua program studi yang baru saja disahkan pembentukannya oleh ITB, yaitu Rekayasa Pertanian dan Rekayasa Kehutanan. Rencana ini akan mulai diterapkan mulai tahun ajaran 2012/2013 bagi mahasiswa tingkat dua dari program studi-program studi tersebut.

Kebijakan ITB multikampus ini masih menjadi perdebatan di lingkungan ITB, termasuk di kalangan mahasiswa. Banyak pihak yang menyatakan pro terhadap kebijakan ini dan banyak pula yang menyatakan kontra. Kebanyakan dari pihak yang kontra masih meragukan kesiapan ITB dalam menyambut kebijakan multikampus ini, meskipun mereka sepakat dengan peluang baik yang bisa diraih jika kebijakan multikampus ini diterapkan di ITB. Dengan melihat masalah keterbatasan lahan jika ITB hanya menggunakan satu kampus saja, satu-satunya solusi untuk memecahkan masalah ini adalah dengan menambah lahan kampus. Hal ini sangat sulit jika dilakukan di kampus Ganesha karena lokasi ITB Ganesha yang terletak di pusat kota yang padat sehingga sulit untuk mencari lahan tambahan sehingga kebijakan multikampus ini merupakan solusi paling ultima hingga saat ini yang dapat dipikirkan. Kebijakan multikampus ini juga bukan yang pertama kalinya diterapkan pada suatu perguruan tinggi. Banyak perguruan tinggi terkenal di luar negeri sudah menerapkan kebijakan ini, bahkan beberapa perguruan tinggi di Indonesia pun juga sudah menjadi multikampus seperti Universitas Indonesia dan Institut Pertanian Bogor. Melihat pada pola kecenderungan dari kebijakan yang diterapkan oleh perguruan tinggi-perguruan tinggi tersebut, wajar jika ITB pun menggunakan pola kebijakan yang sama.

Namun, perlu dicermati bahwa kebijakan multikampus ini tidak akan berjalan dengan baik jika tidak didukung oleh seluruh elemen kampus, misalnya dari sisi kemahasiswaan. Akan sangat disayangkan jika nantinya mahasiswa yang berkuliah di Jatinangor tidak mendapat kegiatan kemahasiswaan selayaknya mahasiswa yang berkuliah di ITB Ganesha seperti Unit Kegiatan Mahasiswa karena kegiatan-kegiatan yang bersifat ekstrakurikuler seperti ini juga penting untuk pengembangan karakter mahasiswa.

Jadi,  apakah kebijakan ITB multikampus ini bisa membawa dampak yang positif bagi ITB di masa yang akan datang? Jawabannya tergantung dari seluruh elemen kampus ITB itu sendiri.


ITB Jatinangor Mulai dibuka 2011

Setelah melakukan proses pematangan rencana pembangunan, kampus ITB Jatinangor akan dibuka mulai tahun ajaran 2011. Pembangunan ITB Jatinangor ini merupakan salah satu langkah ITB menuju multi kampus.

"ITB telah menerima sebanyak 242 pegawai baik dosen maupun non dosen dari Universitas Winaya Mukti. Sumber daya ini harus segera diberdayakan," kata Ketua Tim Pengembangan Multi Kampus di Jatinangor Prof. Indratmo Soekarno, Kamis (13/1/11).

Jika berjalan lancar, Indratmo mengatakan, ITB Jatinangor akan mulai menerima mahasiswa tahun ini. Sekitar 200 hingga 300 mahasiswa akan menimba ilmu sebagai mahasiswa ITB di Jatinangor.

Indratmo mengatakan, ITB akan membuka lima program studi baru di kampus Jatinangor. Program studi tersebut antara lain: Bioengineering, Ilmu tentang perhutanan, Ilmu tentang pertanian (ketiganya di bawah atap Sekolah Ilmu Teknologi Hayati - SITH), Infrastuktur dan Sanitasi Lingkungan, dan Sumber Daya Air (di bawah Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan).

"Prodi tersebut dibuka sesuai dengan kebutuhan saat ini dan untuk pemberdayaan masyarakat," jelas beliau.

Mengenai kualitas pendidikan, Indratmo menjamin tidak akan ada perbedaan antara kampus Ganeca dengan kampus Jatinangor. Semuanya faktor penunjang pendidikan telah distandarkan sesuai dengan kualitas ITB.

Pembangunan Fisik

ITB telah menggelontorkan biaya sebesar satu triliun rupiah untuk pembangunan fisik di kampus Jatinangor. Pembangunan tersebut meliputi pembangunan jalan, pagar, lanboratorium, renovasi dan revitalisasi gedung lama, asrama, dan lain sebagainya.

"Mahasiswa baru kampus Jatinangor akan ditempatkan di asrama yang bisa menampung hingga 512 mahasiswa. Namun kalau sudah tingkat dua ke atas mereka harus berbaur dengan masyarakat," kata dia.

Pembangunan fisik kampus Jatinangor akan mengacu pada prinsip eco campus. Dari total seluas 47Ha, hanya 20% yang akan dipakai untuk mendirikan bangunan. Sisanya digunakan untuk konservasi lahan hijau.

"Di sana juga akan menganut zero delta cue dan membangun drainase yang baik, sehingga tidak ada air hujan yang terbuang. Air permukaan akan dimanfaatkan untuk kebutuhan kampus," ujarnya.

Maka tak heran jika Indratmo menyebutnya sebagai kampus yang berorientasi pada bio engineering, water engineering, dan teknologi pasca panen.

Kampus Jatinangor juga dipersiapkan untuk pusat inovasi alat-alat perkakas mekanik, seperti membuat prototype atau menyempurnakan produk-produk industri.

"Tidak hanya melakukan riset tapi juga terjun hingga dunia bisnis atau bagian hilir," jelasnya.

Ke depannya, sampai tahun 2025, kampus Jatinangor diharapkan bisa menampung 2.700 mahasiswa. Sebagai penghubung antara kampus Ganeca dan Jatinangor, ITB akan menyediakan beberapa unit bus.


PROGRAM STUDI S1 TEKNIK SUMBER DAYA AIR di ITB Kampus Jatinangor

Dalam rangka rencana pembukaan Prodi Teknik Sumber Daya Air di ITB Kampus Jatinangor, Senat Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan menggelar Rapat Senat Fakultas Plus pada Jum’at, 20 Mei 2011, pukul 09.30 di Jatinangor. Pada rapat tersebut, Prof. Ir. Indratmo Soekarno, M.Sc.,Ph.D. mempresentasikan PROGRAM STUDI S1 TEKNIK SUMBER DAYA AIR  (TEKNIK SDA) kepada Para Anggota Rapat Senat yang dihadiri oleh  Prof. Dr. Ir. Enri Damanhuri,Prof. Ir. Masyhur Irsyam, MSE., Ph.D, Prof. Dr. Ir. Suprihanto Notodarmojo, Ph.D, Prof. Ir. R. Bambang Budiono, ME.Ph.D, Prof. Dr. Ir. Rizal Z. Tamin, Prof. Ir. Ricky. Lukman Tawekal, MSE, Ph.D, Prof. Dr. Arwin Sabar, Prof. Dr. Ir. M. Syahril Badri Kusuma, Dr. Ing Prayatni, Ir. Ade Sjafruddin, M.Sc., Ph.D., Dr.Ir. Krisnaldi Idris, Hadi Kardana ST, MT., Ph.D . Senat FTSL ITB menyetujui pembukaan Prodi PROGRAM STUDI S1 TEKNIK SUMBER DAYA AIR

Visi dan Misi dari PROGRAM STUDI S1 TEKNIK SUMBER DAYA AIR

Visi: Menjadi program studi yang terkemuka dalam menghasilkan sumber daya manusia bidang keairan yang unggul, handal, dan bermartabat serta menyiapkan calon peneliti yang berkualitas dan mampu menerapkan teknologi bidang sumber daya air.
Misi: menyiapkan kondisi sehingga di kalangan peserta didik bisa tumbuh kemandirian, kreatifitas, inisiatif, dan kemampuan mengelola sumberdaya air, serta mampu menyesuaikan diri terhadap perubahan yang cepat dalam rangka menghadapi lingkungan dimana laju pertumbuhan dan akumulasi ilmu pengetahuan dan teknologi serta informasi secara global meningkat dengan percepatan tinggi.


Perkenalkan Kampus ITB Jatinangor Lewat KRI dan KRCI 2012

Menjadi tuan rumah dalam Kontes Robot Indonesia (KRI), Kontes Robot Cerdas Indonesia (KRCI), dan Kontes Robot Seni Indonesia (KRSI) merupakan salah satu kebanggaan ITB pada tahun ini. KRI, KRCI dan KRSI sendiri merupakan kompetisi bergengsi yang tiap tahun diadakan oleh Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi (Dikti).

Pada KRI dan KRCI kali ini, ITB mendapat kesempatan menjadi tuan rumah KRI dan KRCI Tingkat Regional Wilayah 2 yang akan diselenggarakan pada tanggal 26 Mei 2012. ITB juga menjadi tuan rumah untuk KRI, KRCI, dan KRSI Nasional yang akan diselenggarakan pada 30 Juni hingga 1 Juli 2012 mendatang.

Perkenalkan ITB Jatinangor

Sebagai ajang yang sangat bergengsi, ITB akan memanfaatkan kesempatan tersebut semaksimal mungkin. Salah satu pemanfaatannya adalah dengan memperkenalkan kampus baru ITB, Kampus ITB Jatinangor . ITB akan menggunakan kampus Jatinangor sebagai tempat diadakannya KRI dan KRCI Tingkat Regional 2 pada 26 Mei mendatang.

"Melalui KRI KRCI ini, kita juga ingin memperkenalkan kampus ITB Jatinangor ke civitas akademika ITB pada khususnya dan masyarakat pada umumnya," ujar Kusprasapta Mutijarsa selaku ketua umum dari acara ini. Ia juga mengungkapkan, sebenarnya belum semua civitas akademika ITB menyadari bahwa ITB Jatinangor sudah siap digunakan.

"Dan untuk ke masyarakat umum, kami juga ingin menunjukan bahwa kampus ITB tidak hanya berada di Ganesha saja," tambahnya kemudian.

Libatkan 67 Tim

Secara keseluruhan terdapat 67 tim dari 29 perguruan tinggi yang berasal dari DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten dan Kalimantan Barat yang akan bertanding pada KRI dan KRCI Tingkat Regional Wilayah 2 ini. Dan semua tim tersebut akan menunjukan semua kemampuannya di tempat pertandingan KRI dan KRCI Tingkat Regional Wilayah 2, yaitu di Kampus ITB Jatinangor, Sumedang.

Sedangkan KRI, KRCI, dan KRSI Tingkat Nasional yang mempertemukan pemenang dari lima wilayah yang ada di Indonesia akan diselenggarakan di Gedung Sasana Budaya Ganesha (Sabuga). Pada event yang terbuka untuk umum ini, selain terdapat lomba, terdapat pula stand-stand pameran teknologi yang menunjukan perkembangan tekonologi robot saat ini.
 
Semoga ITB tetap yang terdepan di dunia Internasional, walaupunpun kami tidak lagi mempunyai almamater, saya juga bangga karena para dosen saya dulu baik yang bekerja di PU maupun yang dari ITB berasal dari lulusan ITB pula dan mungkin anak atau cucu saya nantinya bisa mengencam kampus ITB sebagai pilihannya. 

Sumber wacana :
- ajawijaya.wordpress.com
- www.pikiran-rakyat.com/node/124561
- kampus.okezone.com/read/2011/01/17/373/414667/lima-prodi-baru-di-itb-jatinangor
- www.itb.ac.id/news/3249.xhtml
- www.itb.ac.id/news/3071.xhtml

Berita Lainnya :


Share Artikel ini :
 
Copyright © 2014. Media Nurani Sumedang - All Rights Reserved